Etika Ziarah Madinah: Menghidupkan Sunnah Nabawiyyah Tanpa Sikap Ghuluw

Author:

Kota Madinah Al-Munawwarah senantiasa menempati ruang yang sangat istimewa dan teduh di dalam relung hati setiap Muslim. Berbeda dengan Makkah Al-Mukarramah yang dipenuhi dinamika fisik tawaf dan sa’i di tengah megahnya Ka’bah, Madinah menyambut para peziarah dengan atmosfer ketenangan batin (sakinah) yang khas. Bagi masyarakat yang mendiami kawasan metropolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), mendarat atau menginjakkan kaki di kota hijrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan momen pelepasan penat yang mendalam dari kepenatan hiruk-pikuk kehidupan perkotaan modern.

Namun, di tengah luapan rasa rindu dan keharuan spiritual saat berada di dekat makam manusia paling mulia, para peziarah dituntut untuk membentengi diri dengan ilmu syariat yang kokoh. Rasa cinta (mahabbah) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pilar keimanan yang agung. Kendati demikian, syariat Islam memberikan rambu-rambu yang sangat tegas: kecintaan kepada beliau wajib diwujudkan melalui ketaatan mutlak terhadap sunnah-sunnahnya, bukan diekspresikan melalui sikap berlebih-lebihan (ghuluw) yang melampaui batas-batas tauhid.

Dalam realitas di lapangan, kompleks Masjid Nabawi dan berbagai situs bersejarah di Madinah kerap menjadi saksi terjadinya perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kemurnian akidah. Sebagian jamaah—karena didorong oleh emosi yang tidak terbimbing ilmu—terjebak dalam praktik meratapi makam, mengusap-usap dinding pembatas berukir kuningan, melempar surat permohonan hajat, hingga memanjatkan doa memohon pertolongan kepada penghuni kubur. Fenomena ini membuktikan betapa mendesaknya pemahaman mengenai adab dan fikih ziarah syar’iyyah. Artikel komprehensif ini menyajikan panduan mendalam mengenai etika berziarah di Madinah, tata cara mengucapkan salam yang ma’tsur, optimalisasi ibadah di Raudhah, serta meluruskan berbagai mitos tanpa tuntunan dalil yang sahih.

1. Hakikat Ziarah Syar’iyyah: Menegakkan Batasan Tauhid Melawan Sikap Ghuluw

Pondasi utama peradaban Islam yang ditegakkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun masa kenabian di Madinah adalah pemurnian tauhid dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau adalah sosok yang paling gigih membentengi umatnya dari bahaya pengkultusan figur, bahkan menjelang hembusan nafas terakhirnya.

Ummul Mukminin Aisyah dan sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa tatkala ajal menjelang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda seraya menyingkap selimut dari wajahnya:

“Laknat Allah atas kaum Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah (masjid).” Beliau memperingatkan umatnya dari apa yang telah mereka perbuat. (HR. Bukhari no. 435 dan Muslim no. 531).

Dalam riwayat lain, beliau secara eksplisit memanjatkan doa perlindungan: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Sangat murka Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 414 dan Ahmad no. 7352, sanad shahih).

Berdasarkan landasan nas ini, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah membagi motivasi safar menuju Madinah ke dalam klasifikasi fikih yang sangat terang. Niat utama safar adalah menuju Masjid Nabawi untuk mendirikan shalat dan beriktikaf di dalamnya, berlandaskan hadits shahih mengenai tiga masjid utama yang disyariatkan mengadakan perjalanan ibadah (Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha). Adapun berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua sahabatnya adalah amalan sunnah yang mengikut secara otomatis (tabi’an) setibanya jamaah di dalam masjid.

2. Adab dan Tata Cara Mengucapkan Salam di Makam Rasulullah dan Sahabat

Mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di makam beliau merupakan amalan yang disyariatkan dengan etika penghormatan tertinggi. Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma—sosok yang dikenal paling teguh meneladani sunnah—memberikan contoh nyata mengenai adab ziarah kubur Nabi yang ringkas, berwibawa, dan sarat adab.

A. Langkah-Langkah Eksekusi Ziarah Syar’i:

  1. Melangkah dengan Tenang dan Khusyuk: Peziarah memasuki lorong ziarah makam (melalui pintu Bab As-Salam menuju arah timur) dengan langkah yang tenang, tanpa tergesa-gesa, dan tanpa berdesak-desakan menyakiti sesama Muslim. Menjaga ketenangan suara dan tidak berteriak-teriak merupakan perwujudan adab di hadapan Rasulullah, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Hujurat ayat 2: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…”
  2. Berdiri Menghadap Makam Nabi: Peziarah berdiri tepat di hadapan dinding makam (lubang pertama berhadapan dengan makam Rasulullah) dengan posisi badan menghadap ke arah makam dan membelakangi kiblat. Ucapkan salam dengan suara lirih dan penuh takzim:
    “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah wa rahmatullahi wa barakatuh.”
    (Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah, beserta rahmat Allah dan berkah-Nya).
    Boleh ditambahkan kalimat persaksian: “Aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.”
  3. Bergeser ke Kanan Menghadap Makam Abu Bakar Ash-Shiddiq: Peziarah melangkah satu langkah ke arah kanan (lubang kedua) untuk memberi salam kepada khalifah pertama:
    “Assalamu ‘alaika ya Aba Bakr, khalifata Rasulillah, wa rahmatullahi wa barakatuh. Jazakallahu ‘an ummati Muhammadin khaira.”
  4. Bergeser ke Kanan Menghadap Makam Umar bin Khattab: Peziarah melangkah satu langkah lagi ke arah kanan (lubang ketiga) untuk memberi salam kepada Amirul Mukminin kedua:
    “Assalamu ‘alaika ya ‘Umar, Amiral Mu’minin, wa rahmatullahi wa barakatuh. Jazakallahu ‘an ummati Muhammadin khaira.”
  5. Segera Melangkah Keluar: Setelah selesai mengucapkan salam secara ringkas, peziarah langsung berjalan keluar menuju pintu Bab Al-Baqi’. Peziarah tidak diperkenankan berdiam diri terlalu lama di depan makam yang dapat memicu penumpukan arus manusia dan mengganggu ketertiban umum.

B. Fiqih Arah Kiblat Saat Memanjatkan Doa Pribadi

Kekeliruan besar yang kerap dijumpai di depan makam Nabi adalah mengangkat kedua tangan memanjatkan permohonan doa menghadap ke arah makam. Para fukaha empat mazhab sepakat bahwa apabila seorang Muslim hendak memanjatkan doa permohonan hajat hidup bagi dirinya sendiri atau keluarganya, ia wajib memutar badannya menghadap ke arah Ka’bah (kiblat) seraya membelakangi makam, lalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa adalah ibadah mahdhah yang hanya boleh ditujukan semata-mata kepada Allah, bukan kepada kuburan makhluk mana pun.

3. Meluruskan Praktik Ghuluw dan Tabarruk Palsu di Sekitar Makam

Di sekitar dinding pembatas makam suci, aparat keamanan Arab Saudi (Askar) bekerja keras setiap hari menertibkan peziarah yang melakukan tindakan-tindakan menyimpang. Warga perkotaan yang memiliki literasi kritis perlu memahami batasan tegas antara tabarruk (mencari berkah) yang disyariatkan dengan tabarruk bid’ah:

Praktik Penyimpangan di Lapangan Tinjauan Hukum Fikih dan Akidah Shahihah
Mengusap dinding makam, kisi-kisi kuningan, atau kain penutup untuk mencari berkah Dilarang secara ijma’ ulama; benda mati tidak memiliki daya transmisi berkah. Tabarruk fisik hanya berlaku pada dzat tubuh Nabi saat beliau masih hidup.
Meminta hajat, kesembuhan, atau jodoh langsung kepada Rasulullah di kuburnya Merupakan perbuatan syirik akbar (syirik besar) yang mengeluarkan pelakunya dari Islam; memohon pertolongan gaib hanya hak mutlak Allah (Istighatsah Syar’iyyah).
Menitipkan surat permohonan doa atau melempar uang receh ke dalam celah makam Khurafat dan bid’ah tercela yang mengotori situs sejarah; Rasulullah di alam kubur (barzakh) tidak membaca lembaran kertas duniawi.
Rukuk, sujud, atau berjalan mundur saat meninggalkan area makam Nabi Haram hukumnya; sujud dan rukuk hanyalah hak peribadatan milik Allah semata. Berjalan mundur merupakan pengagungan yang mengada-ada tanpa dasar dalil.

4. Meniti Taman Surga: Adab dan Regulasi Ibadah di Raudhah Asy-Syarifah

Di dalam area Masjid Nabawi kuno, terbentang sebidang pelataran seluas kurang lebih 330 meter persegi yang membentang antara mimbar Nabi dan rumah beliau (kamar Ummul Mukminin Aisyah yang kini menjadi makam). Area ini dikenal dengan nama Raudhah Asy-Syarifah (Taman Surga).

Keagungan tempat ini ditegaskan secara langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Apa yang berada di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku.” (HR. Bukhari no. 1196 dan Muslim no. 1391).

Para ulama menjelaskan bahwa makna “taman surga” mengandung dua dimensi: pertama, beribadah di tempat ini mendatangkan rahmat dan ketenteraman batin serupa kenikmatan surga yang mengantarkan pelakunya menuju surga hakiki; kedua, tanah area tersebut secara fisik kelak akan dipindahkan oleh Allah Ta’ala menjadi bagian dari surga di akhirat.

Adab dan Tata Tertib Masuk Raudhah Melalui Aplikasi Digital Nusuk:

  • Kepatuhan Kuota Resmi Tasrih: Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mewajibkan setiap jamaah melakukan reservasi jadwal masuk Raudhah melalui aplikasi resmi Nusuk. Setiap pemegang visa umroh hanya diizinkan mendapatkan satu kali izin kunjungan per 365 hari. Kepatuhan terhadap jadwal jam dan pintu masuk yang tertera pada kode QR aplikasi merupakan wujud ketertiban dan ketaatan kepada pemimpin (ulil amri) yang sah.
  • Fokus Ibadah: Shalat Sunnah, Istighfar, dan Munajat: Waktu yang dialokasikan di dalam Raudhah sangat terbatas (rata-rata 10 hingga 15 menit). Manfaatkan waktu berharga ini untuk mendirikan shalat sunnah dua rakaat secara tuma’ninah, memperbanyak istighfar memohon ampunan dosa, membaca mushaf Al-Qur’an, dan memanjatkan doa kebaikan dunia akhirat.
  • Larangan Bersikap Zalim demi Meraih Tempat: Banyak jamaah yang merusak nilai ibadahnya sendiri dengan cara mendorong orang lain, menginjak pundak jamaah yang sedang sujud, atau menolak bergeser bergantian. Ingatlah bahwa menyakiti fisik seorang Muslim adalah perbuatan haram, sedangkan shalat di dalam Raudhah berstatus sunnah. Menghindari keharaman wajib didahulukan daripada mengejar amalan sunnah.

5. Rangkaian Ziarah Syar’i yang Disunnahkan Nabi di Kota Madinah

Selain Masjid Nabawi dan makam beliau, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tuntunan praktis mengenai tempat-tempat mana saja di kota Madinah yang memiliki keutamaan syar’i untuk diziarahi. Seorang Muslim tidak perlu menyibukkan diri dengan destinasi yang tidak memiliki landasan dalil.

A. Masjid Quba: Meraih Pahala Setara Ibadah Umroh

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiba di Madinah dalam peristiwa hijrah. Beliau secara rutin mengunjunginya setiap hari Sabtu, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara, untuk shalat di dalamnya.

Beliau bersabda: “Barangsiapa bersuci (berwudhu) di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba lalu mendirikan shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 1412 dan An-Nasa’i no. 699, shahih). Keutamaan agung ini merupakan anugerah kemudahan bagi para peziarah di Madinah.

B. Pemakaman Baqi’ Al-Gharqad: Mengingat Kematian dan Mendoakan Sahabat

Terletak tepat di sisi timur Masjid Nabawi. Di tanah pemakaman ini bersemayam jasad lebih dari sepuluh ribu sahabat Nabi, para istri beliau (Ummul Mukminin), putri-putri beliau, serta para ulama tabi’in. Disunnahkan bagi laki-laki untuk berziarah ke Baqi’ seraya mengucapkan salam ma’tsur yang diajarkan Nabi untuk mendoakan keselamatan bagi para penghuni kubur kaum mukminin serta mengingatkan diri akan kepastian datangnya kematian.

C. Makam Syuhada Uhud dan Jabal Uhud: Meneladani Keteguhan Perjuangan

Terletak sekitar 5 kilometer di sebelah utara Masjid Nabawi. Tempat ini menjadi saksi terjadinya Perang Uhud pada tahun ketiga Hijriah, di mana gugur tujuh puluh sahabat mulia, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu ‘anhu (Asadullah / Singa Allah). Peziarah disunnahkan mengucapkan salam mendoakan para syuhada Uhud seraya merenungi bukit Uhud—sebuah bukit yang disabdakan oleh Rasulullah sebagai bukit yang mencintai kaum mukminin dan dicintai oleh kaum mukminin.

6. Meluruskan Mitos Populer: Shalat Arba’in dan Wisata Keramat Palsu

Di kalangan masyarakat Jabodetabek, sering beredar keyakinan bahwa seorang jamaah umroh atau haji wajib menyelesaikan Shalat Arba’in, yaitu shalat fardhu berjamaah sebanyak empat puluh waktu tanpa terputus di Masjid Nabawi (selama delapan hari berturut-turut). Sebagian jamaah bahkan meyakini ibadahnya tidak sempurna jika jumlah empat puluh waktu tersebut tidak genap.

Para ulama pakar hadits (ahli tahqiq) telah menjelaskan status hadits mengenai shalat arba’in di Madinah. Hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik mengenai keutamaan bebas dari api neraka dan kemunafikan bagi yang shalat empat puluh waktu di Masjid Nabawi dinilai berderajat dha’if (lemah) atau munkar oleh para ulama hadits terkemuka (seperti Syaikh Al-Albani dan para peneliti hadits). Jamaah tentu sangat dianjurkan untuk memaksimalkan seluruh shalat fardhu berjamaah di Masjid Nabawi selama berada di Madinah demi mengejar pahala seribu kali lipat, namun tidak boleh meyakini adanya keharusan atau kekhususan angka empat puluh waktu tersebut sebagai syarat sah ibadah safar.

Demikian pula dengan destinasi wisata non-syar’i seperti Jabal Magnet (Wadi Al-Jinn) atau Sumur Cincin (Bi’r Utsman). Mengunjungi tempat-tempat tersebut hanyalah rekreasi geologis atau napak tilas sejarah biasa. Jamaah dilarang keras mengaitkannya dengan ritual ibadah khusus, meyakini adanya berkah mistis, atau mengambil air/batu tanahnya untuk dijadikan jimat.

7. Komitmen Menghidupkan Sunnah Melalui Pemilihan Biro Perjalanan

Menjaga adab ziarah di Madinah agar tetap murni sesuai sunnah sangat bergantung pada arahan asatidz pembimbing rombongan. Biro perjalanan yang hanya mengejar sisi komersial kerap membiarkan jamaahnya melakukan ritual bid’ah di makam demi menghindari perdebatan, atau bahkan memandu pembacaan doa-doa yang menjurus pada kesyirikan.

Oleh sebab itu, calon tamu Allah asal kawasan perkotaan Jabodetabek disarankan memilih biro perjalanan yang berpegang teguh pada prinsip Umroh Sesuai Sunnah. Penyelenggara yang mengedepankan aqidah yang lurus akan menugaskan asatidz yang senantiasa mengedukasi jamaah dengan kelembutan, menerangkan fiqih ziarah sesuai pemahaman para sahabat, serta mengawal setiap prosesi ibadah agar terbebas dari noda syirik dan bid’ah.

Perencanaan Safar Ibadah yang Tertata Rapi

Menikmati keteduhan kota Madinah dan keagungan ibadah di Masjid Nabawi membutuhkan manajemen perjalanan yang matang sejak dari Tanah Air. Mengamankan tiket penerbangan langsung serta hotel berbintang di pelataran barat atau utara masjid memudahkan jamaah lansia dan keluarga untuk selalu shalat berjamaah tepat waktu di saf utama.

Bagi Anda warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang merencanakan safar ibadah bersama keluarga dengan fasilitas hotel yang dekat dan bimbingan ziarah yang murni berlandaskan dalil yang sahih, meneliti pilihan paket sejak dini merupakan langkah yang tepat. Berbagai variasi program, fasilitas akomodasi ring 1, serta transparansi jadwal keberangkatan dapat dipelajari secara mendalam melalui layanan paket umroh reguler 2026 resmi guna mewujudkan safar ibadah yang menenangkan jiwa.

Kesimpulan: Meneladani Rasulullah dengan Ketaatan Sejati

Bukti cinta yang paling tulus kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah dengan meratapi dinding makamnya atau menyanjung beliau melampaui kedudukannya sebagai hamba dan utusan Allah. Cinta sejati dibuktikan dengan menghidupkan ajaran-ajarannya, memurnikan tauhid sebagaimana yang beliau dakwahkan seumur hidup, serta beradab sesuai dengan batas-batas syariat yang telah beliau tetapkan.

Saat melangkahkan kaki meninggalkan pelataran Masjid Nabawi menuju Tanah Air, bekal paling berharga yang dibawa pulang oleh seorang peziarah bukanlah tumpukan suvenir kurma atau air zamzam semata, melainkan transformasi hati yang semakin tunduk kepada Allah dan semakin bersemangat menjalankan sunnah-sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga dan masyarakat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik, meridhai setiap langkah ziarah kita, serta mempertemukan kita kelak dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di telaga Al-Haudh seraya menikmati syafa’at beliau di hari kiamat. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *